fbpx

Konsumsi MSG dalam Jumlah Banyak Bisa Bikin Bodoh, Mitos atau Fakta?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Pengertian MSG?

MSG—Monosodium Glutamat—merupakan penambah rasa yang biasanya berbentuk kristal berwarna putih. Memperkuat rasa makanan jadi kegunaan MSG. Di berbagai negara, MSG sudah lama digunakan sebagai bahan tambahan pada berbagai jenis makanan. 

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan bahwa MSG termasuk dalam kategori Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang aman digunakan. BPOM memiliki peraturan ketat terkait penggunaan MSG, termasuk batas maksimal penggunaan yang diizinkan dalam berbagai jenis makanan. Penambah rasa ini juga dapat meningkatkan cita rasa makanan jika ditambahkan pada makanan yang mengandung protein. 

MSG jadi salah satu bahan tambahan pangan yang sangat sering digunakan dalam rumah tangga. Dikutip dari situs Kementerian Kesehatan, ada beberapa kandungan yang terdapat di dalam MSG, antara lain natrium 12%, asam glutamat 78%, serta air 10%. 

“Generasi mecin” menjadi stigma yang berkembang luas di masyarakat. Generasi mecin merujuk pada seseorang yang terlalu banyak mengonsumsi MSG hingga kualitas berpikirnya menurun. Istilah ini sering digunakan dengan konotasi negatif, seperti dianggap kurang cerdas, mudah terpengaruh, dan memiliki perilaku yang tidak terkontrol. Penggunaan istilah “generasi mecin MSG” didasarkan pada mitos yang sudah lama beredar bahwa MSG dapat menyebabkan kebodohan dan berbagai masalah kesehatan lainnya.

Banyak pula orang tua yang percaya jika MSG bahaya untuk anak-anak, sebab bisa merusak sel otak hingga mengakibatkan kebodohan. Sebab, masih banyak orang tua yang kurang memiliki pengetahuan ilmiah yang cukup terkait MSG dan dampaknya.  Adanya mitos MSG bisa merusak otak sudah berkembang dengan sangat lama. Hal ini membuat adanya kesalahpahaman tentang MSG. 

Namun, apakah betul jika MSG dalam jumlah banyak dapat mempengaruhi kualitas berpikir seseorang? berikut rangkumannya.

Desas-desus tentang hubungan antara konsumsi MSG dan penurunan kecerdasan terus berlanjut, menyebabkan banyak orang yang curiga terhadap penguat rasa ini. Namun, dalam pandangan sains, fakta menunjukkan hal yang berbeda.

Artikel ini bertujuan untuk membongkar mitos tentang efek buruk MSG pada kecerdasan seseorang. 

Mengenai mitos yang berkembang di masyarakat, faktanya mengonsumsi MSG tidak akan menyebabkan kebodohan atau penurunan kualitas berpikir seseorang. Belum ada dasar ilmiah yang mengungkapkan jika mengonsumsi MSG akan menyebabkan kebodohan.

Mitos tentang kebodohan akibat MSG berasal dari satu laporan yang diterbitkan dalam jurnal medis pada tahun 1960-an. Laporan tersebut merinci seorang pria yang mengalami sensasi terbakar, mati rasa, dan lemas setelah mengkonsumsi makanan Cina dalam jumlah besar. Dia mengaitkan gejala ini dengan MSG, tetapi laporan tersebut tidak memiliki ketelitian ilmiah dan eksperimen untuk menetapkan hubungan sebab-akibat.

Meskipun tidak ada bukti ilmiah, mitos tersebut menyebar dengan cepat. Nama MSG yang tidak familiar dan penggunaannya dalam masakan Asia memicu kecemasan dan bias budaya. Sejak itu, banyak penelitian ilmiah yang dilakukan secara konsisten namun gagal menemukan hubungan antara konsumsi MSG dan penurunan kognitif.

Berdasarkan Food and Drug Administration (FDA), MSG termasuk ke dalam kategori  “generally recognized as safe” (GRAS), yang artinya aman untuk dikonsumsi. 

Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor 23 Tahun 2013, MSG aman dikonsumsi asalkan dengan takaran yang sesuai. 

World Health Organization (WHO) sendiri menetapkan batasan MSG yang boleh dikonsumsi seseorang, yakni 0-120 mg/kgBB. Jika MSG dikonsumsi lebih dari 3gr/hari, maka akan menimbulkan dampak yang merugikan bagi kesehatan.

Meski MSG diperkenankan sebagai penyedap masakan, penggunaan MSG berlebihan dapat mengakibatkan rasa pusing dan mual. Gejala itu disebut Chinese Restaurant Syndrome. 

Beberapa orang mungkin mengalami sakit kepala atau alergi setelah mengonsumsi makanan yang mengandung MSG. Namun, efek ini tergolong sangat jarang dan tidak dapat digeneralisasikan kepada semua orang. Reaksi tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor lain, seperti alergi terhadap bahan makanan lain atau intoleransi terhadap makanan tertentu.

Jadi, bagaimana cara yang bijak mengonsumsi MSG?

  • Konsumsi MSG secukupnya sesuai batas yang dianjurkan.
  • Perhatikan label kemasan untuk mengetahui kandungan MSG.
  • MSG hanyalah penyedap rasa, variasikan dengan bumbu alami lainnya.
  • Jaga pola makan sehat dan seimbang.

Dengan memahami fakta dan informasi yang tepat tentang MSG, masyarakat dapat terhindar dari misinformasi dan stigma negatif. Konsumsi MSG yang aman dan bertanggung jawab dapat membantu meningkatkan cita rasa makanan dan menjaga kesehatan. Mengonsumsi MSG memang diperbolehkan asalkan takarannya tak berlebihan. Bijaklah dalam mengonsumsi MSG, agar tak terkena dampak negatifnya

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Telegram
Artikel Terkait
Open chat
Hello,
Can we help you?